TechnoUpdate News

Era AI Menyulitkan Perakit PC: Harga RAM Melonjak dan Komponen Jadi Mahal

Lonjakan kebutuhan memori akibat ekspansi besar-besaran pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) membuat harga komponen PC, terutama RAM, meroket dan menjadikan periode ini salah satu yang tersulit untuk merakit PC baru.

Pasar perangkat keras global kini sedang mengalami gejolak signifikan, terutama pada komponen memori seperti RAM (Random Access Memory) dan penyimpanan SSD, yang mulai langka serta harganya naik drastis dalam beberapa bulan terakhir. Lonjakan ini tidak hanya dirasakan oleh industri besar tetapi juga konsumen biasa yang ingin merakit atau membangun PC baru, termasuk di Indonesia.

Fenomena ini terjadi karena pabrikan memori di seluruh dunia kini memprioritaskan produksi untuk kebutuhan pusat data AI dan server besar, sehingga alokasi produksi untuk RAM konsumen PC menurun tajam. Permintaan memori dari layanan cloud dan perusahaan teknologi raksasa yang membangun infrastruktur AI menyerap pasokan DRAM dan NAND flash dalam jumlah sangat besar, membuat pasokan untuk pasar PC tradisional menyusut dan harganya pun naik tajam.

Data komunitas perakit PC internasional menunjukkan bahwa harga memori konsumen telah lebih dari tiga kali lipat dalam beberapa bulan terakhir. Sebagai contoh, kit RAM DDR4 32 GB yang sebelumnya biasa dibeli di bawah USD 100 kini mendekati USD 250, sementara RAM DDR5 yang lebih cepat melonjak hampir ke kisaran USD 400.

Di Indonesia, efek dari tren global ini terasa di toko-toko komponen komputer dan marketplace online. Pantauan sejumlah situs e-commerce menunjukkan bahwa harga RAM DDR5 di Indonesia telah naik signifikan dan kini menyentuh jutaan rupiah untuk modul 32 GB, bahkan ada varian yang mencapai puluhan juta rupiah di pasar domestik — jauh lebih tinggi dibanding kondisi sebelum fenomena AI ini mencuat.

Read More  Mana Lebih Tinggi Kolesterol, Daging Sapi atau Kambing?

Situasi ini juga berdampak pada biaya merakit PC baru secara keseluruhan. Karena RAM merupakan salah satu komponen utama dalam sebuah PC, lonjakan harga ini membuat total biaya rakitan meningkat drastis, apalagi jika ditambah dengan kenaikan harga SSD yang juga terdampak kelangkaan chip memori dan flash storage. Banyak calon perakit kini harus mempertimbangkan kembali anggaran mereka, menunda pembelian, atau mencari alternatif komponen yang lebih murah.

Beberapa komunitas pengguna PC bahkan mulai mencari solusi kreatif untuk menghadapi kondisi ini, seperti mempertimbangkan penggunaan RAM bekas atau modul laptop dengan adaptor di desktop sebagai opsi sementara guna mengurangi biaya rakitan di tengah pasar yang tidak bersahabat.

Para analis industri memperkirakan bahwa fenomena ini kemungkinan akan berlanjut hingga setidaknya awal 2026, bahkan beberapa prediksi menyebut kelangkaan dan lonjakan harga komponen bisa bertahan hingga 2027 atau lebih, tergantung pada kapasitas pabrik memori untuk memenuhi permintaan AI dan apakah suplai dapat meningkat seiring waktu.

Bagi penggemar hardware dan calon perakit PC di Indonesia, tren ini berarti harus lebih cermat memantau pasar, menyesuaikan anggaran, serta bersabar dalam memilih waktu terbaik untuk membeli komponen atau merakit sistem baru. Meski tantangan saat ini besar, kesempatan bagi pasar teknologi tetap terbuka seiring dengan perkembangan kebutuhan komputasi yang terus meningkat.

Back to top button